Tolong.. Jangan Disingkat Lagi.. Hormati Syariatmu!!!

Seringkali kita salah tanggap atau mungkin karena sudah jadi kebiasaan. Saat mengetik pesan untuk sms atau chat. Kita singkat ucapan salam seperti dibawah ini.

Jangan Disingkat Lagi


Ada sebagian yang menyanggah dan beralasan bahwa hal itu untuk menjadikan segalanya praktis dan hemat karakter. Ada pula yang berdalih kalau segala sesuatu itu tergantung niatnya, kalau niatnya baik tidak masalah disingkat-singkat. Benarkah demikian? Mari kita lihat artinya:

1. As = orang bodoh ; keledai
2. Ass = pantat
3. Askum = celakalah kamu
4. Assamu = racun
5. Samlekum = matilah kamu
6. Salom / syalom= dari bahasa Ibrani untuk sesama kristen dan ada 263 kata di dalam kitab perjanjian lama dan perjanjian baru.
7. Mikum = dari bahasa Ibrani Mari Bercinta

Salam pendek, salam sedang dan salam panjang telah dicontohkan oleh Nabi dan tidak merubah makna aslinya:

1. Salam pendek : "Assalamualaikum". dengan 10 kebaikan.
2. Salam sedang : "Assalamualaikum warohmatulloh". dengan 20 kebaikan.
3. Salam panjang : "Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh". dengan kebaikan sempurna.

Tanpa kita tahu sebenarnya itu bisa fatal jadinya. Biasakanlah mengucap salam secara lengkap atau dengan benar. Meski hanya sebatas ketikan sms / chat itu juga diperhitungkan di sisi Allah.

Mengucapkan salam berarti memberikan doa kebaikan untuk orang yang kita sapa. Jadi... mulai sekarang jangan menyingkat salam yaaa, karna ada berjuta kebaikan didalamnya.

Bantu sebarkan ya.. ❤❤

Guru Ngaji Putri Imam Masjidil Haram Ini Ternyata Hafidzah dari Indonesia

Siapa sangka jika Guru Ngaji Putri Imam Masjidil Haram Ini Ternyata Orang Indonesia. Jika tidak bertemu secara langsung atau melihat gambar wajahnya, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa pembimbing hafalan Al Qur’an bagi putri Imam Besar Masjidil Haram ternyata orang Indonesia. Ya, hafidzah berwajah anggun ini memang asli orang Indonesia.

Nabilah Abdul Rahim Bayan
Nabilah Abdul Rahim

Namanya Nabilah Abdul Rahim Binti Bayan, Ia lahir di Makkah pada tanggal 15 April 1992. Sejak usia 4 tahun, Nabilah memang sudah dibimbing oleh orang tuanya untuk menghafal Alquran sehingga pada umur 17 tahun, ia sudah hafal Alquran 30 juz secara lengkap dan tartil.

Usai menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Umm Alqura Makkah, Nabilah mulai berdakwah dengan mengajar Alquran di sebuah lembaga tahfidz Quran. Disanalah, ia membimbing putri Imam Masjidil Haram Syekh Mahir al-Muaiqily.

Awalnya, Nabilah tak tahu, Jika salah satu peserta didiknya adalah seorang putri dari Imam Masjidil Haram.

"Ketika saya tahu, wah masyaallah.. bener nih..  anak imam masjidil haram," kata Nabilah dengan bahasa Indonesia meskipun dalam kesehariannya ia lebih banyak memakai bahasa Arab.

Kini Nabilah telah pulang dan menetap di Indonesia. Ia melihat begitu besar antusiasme anak-anak untuk menghafal Alquran. Ia berharap, Indonesia menjadi negara yang penghuninya dekat dengan Alquran.

SUBHANALLAH.. Meninggal Setelah Hafal Quran, Kafan Gadis Ini Berbau Wangi

Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di pelosok Saudi, Seorang gadis berparas cantik nan menawan dahulunya tak pernah sedikit pun melaksanakan shalat dan menyentuh Al Quran.

Meninggal Setelah Hafal Quran, Kafan Gadis Ini Berbau Wangi
Ilustrasi


Namun, setelah melihat temannya melakukan perbuatan haram, ia pun memutuskan untuk bertaubat dan berusaha menghidupkan Al Quran lewat dengan menjadi seorang Hafidzah atau penghafal Al Quran.

Gadis tersebut bernama Hasna, Lahir dari sepasang suami istri yang kaya raya. Meski memiliki harta yang berkecukupan, namun tak pernah ia rasakan kasih sayang dan pendidikan agama dari keluarganya. Ia lahir dari keluarga yang lintas agama dimana ayahnya adalah seorang muslim namun selalu sibuk mengurus pekerjaannya hingga melalaikan kehidupan keluarga.

Sementara sang ibu merupakan penganut agama Nasrani yang tak pernah ada di rumah karena sering bepergian keluar kota baik untuk bisnis maupun aktivitas lainnya.

Dengan kurangnya dukungan kasih sayang dan bimbingan agama dari kedua orang tuanya, Hasna mencari kesibukan dan perhatian dari teman-temannya sehingga bisa dibilang Hasna menjelma menjadi seorang anak perempuan yang tidak bisa diatur.

Pada saat libur sekolah, Hasnak bersama dengan teman-temannya sering menyewa sebuah villa untuk menikmati masa liburan. Tak hanya teman wanita saja yang ikut dalam liburan tersebut, namun teman-teman yang pria pun bercampur baur meski saat mereka tidur dibedakan kamar antara pria dan wanita.

Campur baur pertemanan antara pria dan wanita masih bersifat wajar dimana hanya berupa obrolan dan candaan semata. Namun pada suatu saat ia pergi ke rumah temannya yang wanita dengan beberapa teman pria juga. Rumah tersebut terbilang sepi karena orang tua temannya juga sama-sama sibuk. Bisa dibilang mereka bisa melakukan apapun dalam rumah tersebut.

Sang teman yang empunya rumah berkata kepada Hasna “Aku ke kamar dulu yah!” Yang cukup aneh adalah dia menggandeng temannya yang pria untuk ikut masuk kedalamnya. Bahkan temannya tersebut berucap kepadanya “Jika kamu mau, kamu bisa pakai kamar yang satunya lagi bersama cowok yang kamu suka.” Namun Hasna tidak menuruti apa yang dikatakan temannya tersebut.

Hingga beberapa saat berselang, teman wanitanya yang masuk ke kamar sedikit berteriak memanggil Hasna “Hasna sini deh”. Dengan cepat Hasna menghampiri kamar dan saat dibuka pintu, ia mendapati temannya yang wanita tengah berbaring di atas ranjang sementara sang pria berada diatasnya dengan tanpa sehelai pakaian sedikit pun.

“Beraninya kamu berbuat itu!”

Seketika itu juga Hasna langsung pergi keluar rumah tersebut sambil menangis karena menyaksikan perbuatan yang terkutuk itu. Kini ia merasa bahwa jalan hidupnya telah sesat dan tanpa tujuan yang jelas.

Hasna yang dahulu suka keluar untuk bergaul berubah menjadi penyendiri dan suka merenung. Ia juga kini tidak suka mendengarkan musik serta tidak menyukai pakaian yang terbuka seperti kelakuannya dahulu. Kemewahan yang ada dalam rumah serta pakaiannya kini tidak lagi dikaguminya.

Di saat adzan berkumandang, hati kecilnya merasa terpanggil untuk melakukan shalat. Untunglah ada sepasang mukena dan juga sajadah bekas peninggalan nenek dari ayahnya dahulu yang pernah menginap di rumah tersebut. Meski ayahnya seorang muslim, Hasna tak pernah melihat imam keluarga tersebut melaksanakan shalat.

Saat tubuhnya mulai merunduk dan tersungkur sujud, Hasna merasakan sebuah penyesalan yang mendalam dengan disertai kucuran airmata yang tiada henti. Hampir satu jam ia menangis tersedu hingga membasahi mukena dan sajadah yang digunakannya. Dalam kekhusyukan doa, ia merasakan sebuah ketenangan batin yang tak pernah dialaminya sejak dahulu.

Setelah melakukan shalat, ia kemudian teringat akan pamannya yang merupakan seorang yang taat beragama. Ia pun memutuskan pergi ke rumah pamannya tersebut untuk belajar ilmu agama. Sang paman pun dengan penuh kasih sayang mengajarkan keponakannya untuk bisa melakukan wudhu dan shalat yang benar.

Hari demi hari, Hasna mulai bisa menguasai ilmu yang telah diberikan sang paman. Melihat Al Quran merupakan sebuah pedoman hidup umat muslim yang berharga, Hasna memutuskan untuk menghafal Quran dan bertanya kepada pamannya.

“Berapa lama sih paman untuk bisa menghafal Al Quran?” Tanya Hasna

“Insyaallah sekitar 5 tahun sudah bisa hafal” Seru sang paman

Dalam hati, Hasna berkata “Ya Allah mungkin saja sebelum lima tahun tersebut saya sudah meninggal.” Namun tekad Hasna tetap diteruskan meski belum tahu apakah lima tahun tersebut bisa dicapainya.

Saat hari libur, Hasna tetap menemui pamannya untuk belajar menghafal Al Quran. Sang ayah yang memang libur merasa heran kemana anaknya pergi pagi-pagi dan betapa terkejutnya ia melihat Hasna berada di rumah adiknya yang alim tengah berusaha menghafal Al Quran.

Sang ayah yang memang jauh dari agama segera menyuruh Hasna untuk pulang. Namun Hasna justru tidak ingin pulang ke rumah yang jauh dari aura agama. Alhasil Hasna memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya.

Impian untuk bisa menghafal 30 juz Al Quran akhirnya bisa dilakukan oleh Hasna dengan cukup mengejutkan. Hasna tidak perlu butuh waktu 5 tahun untuk bisa menghafalnya karena dengan hanya waktu 3 bulan saja Hasna menjelma menjadi seorang hafidzah berkat semangatnya untuk berada di jalan Allah.

Dengan keberhasilan yang dicapainya, sang kakek dan keluarga yang lain ingin mengadakan syukuran dengan mengundang beberapa kerabat dekat. Namun Hasna justru tidak terlihat dari kumpulan keluarga tersebut.

Salah seorang kerabat menuturkan bahwa ia melihat Hasna tengah shalat di kamarnya dan belum keluar.

Dengan perasaan tidak karuan cukup lama, kerabat dan keluarganya kemudian berinisiatif untuk masuk ke kamar Hasna. Setelah sempat mengetuk pintu beberapa kali, sang kakek kemudian membuka pintu tersebut dan alangkah terkejutnya pihak keluarga karena mendapati Hasna yang terbaring tak bernyawa sembari memegang Al Quran.

Ayahnya yang ikut hadir dalam syukuran tersebut langsung histeris disertai tangisan yang mendalam. Meski merupakan sebuah peristiwa yang cukup mengagetkan, namun pihak keluarga beserta kerabat berusaha menerima kenyataan tersebut.

Tubuh Hasna kemudian dimandikan dan saat hendak dikafani dengan kain kafan yang baru dibeli, mendadak kain tersebut hilang entah kemana. Karena tidak mendapatkan kain lagi dan yang ada hanya sebuah kain hijau di tiang sudut rumah, pihak keluarga pun menutupi jenazah Hasna dengan kain tersebut.

Namun yang cukup membuat kerabat dan keluarga terheran-heran adalah bau wangi yang terus tercium dari kain pembungkus jenazah. Subhanallah

Semoga kita semua senantiasa mendapat keridhaan Allah hingga akhir hayat dan dianugerahi akhir yang khusnul khotimah, Aamiin

Mas, Kamu Ini Niat Mau Nikah Atau Mau Kredit Motor?

Wahai gadis shalihah, nampaknya hati saya sudah bertaut kepadamu, In Syaa Allah saya serius ingin hidup berdua denganmu, tunggu saya LIMA TAHUN LAGI setelah saya lulus dan dapat kerja"

Mas, Kamu Ini Niat Mau Nikah Atau Mau Kredit Motor?


Hal ini mungkin timbul dari kebingungan lelaki diatas kecemasannya. Hati sang lelaki sudah terlanjur suka, Namun ia belum bisa melegalkannya sesegera mungkin, Atau mungkin takut jika keduluan orang lain, yang penting ngomong duluan, urusan yang lain-lain nanti dulu. Yang penting si gadis yang diincar sudah berada di beranda depan rumah kekuasaan. Padahal dia belum siap untuk nikah.

Lelaki yang seperti ini hanya berani maju dengan modal dengkul saja.

Hal ini bisa membuat hati wanita seperti digantung. Dimana akarnya tidak menghunjam kebawah... Dan dahannya tidak menjulang kelangit..

Firman Allah SWT,

"Kemudian engkau biarkan dia menggantung terkatung-katung" (QS. An-Nisa : 129)

Lima tahun atau hitungan tahun sangatlah lama bagi wanita untuk menunggu, menambah kecemasan diatas kecemasan hari demi hari.

Sebaiknya biarkanlah ia bebas, jika ada laki-laki lain yang lebih siap, biarlah mereka maju.

Biarlah nantinya ia dipersunting oleh takdirnya yang namanya sudah dituliskan di lauhil matshur.

Kita tidak tahu apa yang terjadi selama lima tahun, bisa jadi:

- Selama itu tidak bisa menjaga kehormatan bersama, terjerumus dalam zina.

- Selama ini menemukan orang lain yang lebih baik darinya, lebih dari segalanya, maka bisa jadi salah satunya berkhianat cinta dan berpaling.

- Selama itu bisa saja terjadi hal-hal yang tak diinginkan, misalnya salah satunya meninggal ketika penantian sudah berjalan 4,5 tahun. Atau cacat karena kecelakaan. Dan si gadis sudah mulai berumur serta sudah menolak banyak lelaki yang ingin melamarnya.


Tidak perlu khawatir masalah jodoh. Allah menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Bisa saja saat ini sama sekali belum ada bayangan kapan dan dengan siapa akan menikah. Tapi yakinlah, Allah akan mempertemukan dengan seseorang pada saat yang tepat nanti.

Perkuat doa, sempurnakan ikhtiar, lalu bertawakal. Jika seseorang itu ditakdirkan menjadi jodohnya, Allahlah yang akan menggerakkan hati mereka, dan hati orang –orang di sekitar mereka (orangtua, saudara dsb) untuk saling menerima serta memudahkan jalannya.

Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, pun sebaliknya. Maka sambil menunggu kedatangannya, terus menerus perbaikilah diri.

Membicarakan Keburukan Orang Lain Lebih Keji Daripada Zina 30 Kali

Membicarakan Keburukan Orang Lain atau sering disebut dengan kata Menggunjing, sekarang ini sudah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar oleh masyarakat. Terlebih perbuatan menggunjing itu sepertinya mudah sekali untuk dilakukan.

Membicarakan Keburukan Orang Lain Lebih Keji Daripada Zina 30 Kali
Ilustrasi menggunjing


Dengan respon yang baik dari sesamanya untuk menggunjing, akan membuat seseorang lebih bersemangat. Lidah seakan-akan tidak mempunyai rem. Sehingga seseorang yang terus berbicara tentang keburukan orang lain, sangat berat sekali untuk dihentikan.

Keburukan orang lain seakan menjadi pembahasan yang sangat menarik untuk dikaji. Terlebih, jika orang yang sedang diperbincangkan melewati mereka, maka hati mereka tambah puas untuk semakin merendahkannya.

Inilah yang dapat membuat seseorang menjadi frustasi dan putus asa. Sehingga, banyak kita temukan orang-orang di sekitar kita yang mengakhiri hidupnya secara tragis hanya karena telinganya tak kuasa lagi mendengar prasangka buruk tentangnya.

Sungguh, sangatlah hina perbuatan membicarakan keburukan orang lain. Bukan hanya menyakiti perasaan orang lain, Namun juga bisa membuat seseorang menjadi tak bersemangat dalam menjalani hidup. Padahal, Allah SWT melarang keras perbuatan tersebut.

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dusta dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Hujurat: 12).

Imam Al Ghazali dalam kitab 'Bidayah Al Hidayah' menjelaskan bahwa, 'Dosa ghibah (menggunjing) adalah lebih keji daripada dosa akibat perbuatan zina yang dilakukan hingga 30 kali dan jaminannya sudah pasti neraka. Wal 'Iyaadzu Billah.'

Bayangkan, menggunjing orang lain adalah sama halnya seperti menginjak-injak martabat orang lain, bahkan merendahkan kehormatan dan harga dirinya. Maka jika Anda digunjing orang lain, sudah pasti Anda tidak akan menerimanya terlebih gunjingan tersebut tidak sesuai dengan fakta.

Oleh karenanya, Wahai saudaraku yang kucintai karena Allah, Sebelum lidah ini berkata tentang keburukan orang lain, ingatlah diri kita sendiri.

Cobalah kita intropeksi diri. Tanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita ini sudah lebih baik daripada orang lain. Apakah derajat kita begitu mulia di mata Allah SWT dan makhluk di dunia ini, sehingga kita boleh menganggap rendah orang lain? Tentu tidak!

Daripada kita sibuk menjelek-jelekkan orang lain, lebih baik kita perbaiki diri kita. Masih banyak kekurangan dan kesalahan yang mesti kita benahi. Itu sudah cukup menguras waktu dan tenaga kita. Jangan sampai kita menghabiskan waktu hanya untuk menganggap lemah orang lain.

Wallahu A'lam.

Masih Mengutamakan Istri Daripada Ibu? Bacalah Kisah Nyata Ini!!!

Kisah Nyata – Pada zaman Nabi terdapat seorang pemuda yang bernama Alqomah. Dalam kesehariannya, ia selalu rajin menjalankan ibadah seperti shalat, puasa maupun bersedekah. Hingga suatu ketika ia mengalami sakit yang teramat parah, Salah satu kerabat yang melihat hal tersebut berucap bahwa Alqomah sedang mengalami sakaratul maut.

hikmah kisah alqamah


Yang mengherankan adalah entah kenapa Alqomah yang rajin beribadah sangat sulit untuk mengucapkan lafadz syahadat pada saat menjelang dicabut nyawanya. Istrinya pun meminta pertolongan pada seseorang agar menemui Rasulullah dengan tujuan menyampaikan pesan tentang keadaan suaminya yang tengah menderita.

Setelah pesuruh tersebut datang kepada Rasulullah dan menyampaikan keadaan dari Alqomah, Rasul pun menyuruh para sahabatnya seperti Bilal, Ali dan Ammar untuk mendatangi rumah Alqomah. Keadaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata tersebut sungguh terlihat oleh mereka bertiga dan saling mempertanyakan di dalam hati mereka tentang Alqomah yang taat dalam menjalankan ibadah namun sangat sulit untuk mengucapkan lafadz “Laa ilaha illallah”. Sepertinya lidah Alqomah telah dikunci untuk mengucapkan kata tersebut.

Melihat kondisi dari Alqomah yang menderita, Bilal pun memutuskan untuk mendatangi Rasulullah. Sesampainya di depan Rasullullah dan Bilal menguraikan kejadian yang dialaminya, Rasul pun berucap “Apakah Alqomah masih memiliki ayah dan ibu?”

Karena Bilal cukup tahu kondisi dari Alqomah, maka ia pun menjawab “Ayahnya sudah meninggal, namun ia masih memiliki seorang ibu yang sudah tua renta”.

Rasulullah kemudian berkata “Baiklah Bilal, temuilah ibu Alqomah dan aku titipkan salamku untuknya. Apabila ia masih mampu berjalan, maka dia bisa menghadapku. Apabila ia memang tidak bisa maka aku yang akan ke sana.”

Setelah mendengar perintah dari Rasulullah SAW, Bilal pun langsung menuju rumah ibu Alqomah dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Rasulullah tanpa mengurangi sedikit pun.

Ibu Alqomah pun berkata “Biarlah aku yang pergi menemui Rasulullah”.

Dengan sedikit tertatih-tatih dan dengan bantuan tongkat yang menjadi penyangganya, ibu Alqomah pun menemui Rasulullah dan mengucapkan salam yang disambut dengan jawaban dari Rasulullah.

Rasulullah berkata “Bisakah ibu menceritakan keadaan Alqomah yang sebenarnya? Kenapa ia nampak kesulitan untuk mengucapkan “Laa ilaha illallah”. Setahu saya Alqomah adalah hamba yang rajin beribadah lagi taat”.

Dengan tegas ibunda Alqomah menjawab “Itu karena saya yang murka kepadanya wahai Rasulullah.”

“Mengapa engkau murka kepada Alqomah?” Rasul semakin penasaran dengan ucapan ibunda Alqomah.

“Ini karena Alqomah lebih mementingkan istrinya dibandingkan dengan aku yang menjadi ibunya. Alqomah telah menyakitiku. Ia berani menentangku demi untuk menuruti keinginan dari istrinya.”

Kini Rasulullah mengerti dengan keadaan Alqomah yang susah melafadzkan “Laa ilaha illallah” tersebut dikarenakan ibundanya telah murka akan Alqomah. Rasul pun menganggukkan kepalanya tanda beliau telah mengerti.

Sesaat kemudian, Rasulullah memanggil Bilal dan menyuruhnya untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya untuk Alqomah.

Mendengar hal tersebut, ibu Alqomah langsung bertanya keheranan “Ya Rasulullah mengapa engkau mau membakar anakku di depan kedua mataku? Bagaimana perasaanku nanti saat melihatnya?” Ibu mana yang tega melihat anaknya dibakar tepat di depan matanya. Meski ibunda Alqomah murka, namun kasih sayangnya tidak tega jika Alqomah harus dibakar hidup-hidup.

Rasulullah menjawab “Wahai ibunda Alqomah, sejatinya siksa dari Allah di akhirat sangatlah lebih kejam. Amal yang telah Alqomah kerjakan selama ini tidak dapat diterima oleh Allah karena murka yang engkau berikan. Kebaikan yang selama ini Alqomah lakukan dengan ikhlas tidak mampu menahannya dari siksa api neraka”.

“Jika engkau memang ingin Alqomah selamat dari api neraka, maka engkau harus memaafkan dan merelakan apa yang telah Alqomah lakukan.”

Mendengar hal tersebut, ibu Alqomah pun memafkan anaknya karena ia tak sanggup jika harus melihat Alqomah tersiksa dalam api neraka.

Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh ibunda Alqomah, Rasulullah pun meminta Bilal untuk mendatangi rumah Alqomah dan mengecek apakah Alqomah sudah dapat mengucapkan kalimat syahadat atau belum.

Ketulusan rasa maaf dari seorang ibu akan anaknya telah terbukti. Bilal yang telah sampai di depan pintu rumah Alqomah mendengar bahwa Alqomah telah mengucapkan kalimat “Laa ilaha illallah” dengan lancar dan wafat dalam keadaan yang baik.

Bilal pun masuk kedalam rumah tersebut dan menceritakan sebab Alqomah sukar untuk mengucapkan kalimat syahadat. Amal yang selama hidup Alqomah lakukan ternyata tidak mampu membendung murka dari ibunya sendiri.

Alqomah segera dimandikan, dikafani dan dishalatkan yang dipimpin oleh Rasulullah.

Selesai menguburkan, Nabi Muhammad SAW berpesan:

“Wahai sahabat Muhajirin dan Anshar. Siapa saja yang lebih mengutamakan istrinya daripada ibunya maka ia terkena laknat Allah, malaikat dan manusia semuanya. Bahkan Allah tidak menerima darinya ibadah fardhu dan sunnatnya, kecuali jika bertaubat benar-benar kepada Allah dan berbuat baik pada ibunya serta meminta keridhoannya. Sebab ridha Allah terpaut dengan ridha ibu dan murka Allah juga dalam murka seorang ibu”

Subhaanallah.. Sahabatku.. Masihkah kita mendurhakai seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan kita? Rasanya sungguh hina diri ini jika harus merasa senang di tengah penderitaan orang tua terutama ibu dan mengesampingkannya.

Semoga kisah nyata diatas bisa kita ambil pelajaran dan hikmahnya, Mari kita berbakti kepada ibu dan ayah kita dengan sekuat tenaga selama mereka berdua tidak menyuruh berbuat maksiat kepada Allah SWT.

Tak Ada Tempat Wisata Paling Indah Selain Makkah, Yakinlah!

Tak Ada Tempat Wisata Paling Indah Selain Makkah, Yakinlah!


Tak Ada Tempat Wisata Paling Indah Selain Makkah, Yakinlah!



Mungkin bagi sebagian orang, berwisata ke Paris begitu indah

Sidney, Maldives, Seoul, Jepang, atau Bali

Dulu aku sering berdoa

Agar sampai ke tempat tempat indah tersebut

Agar tubuh ini bisa keliling dunia

Namun semenjak kulihat Ka'bah

Tak ada lagi tempat wisata yang lebih indah selainnya

Jiwa dan ragaku menjadi saksi, Bahwa

Makkah, Masjidil Haram, Ka'bah

Adalah tempat wisata terindah

Ibu dari segala tempat terbaik di muka bumi

Bicara tentangnya berarti bicara tentang kekaguman terhadap ciptaan Allah yang Maha Agung

Tak ada lagi tempat yang lebih damai selain berada di pelataran Ka'bah

Sejak aku melihatnya, Aku mulai paham akan arti rindu yang sebenarnya

Rindu yang tak pernah putusnya

Rindu yang tak pernah padamnya

Pada tempat paling indah di muka bumi ini

Jiwaku terbang dalam euforia rindu mendalam

Betapa dahsyatnya hingga melebihi apa pun yang pernah kualami sebelumnya

Rindu itu menghinggap, menyelinap, meresap, lantas menjalar ke seluruh sel di tubuhku

Yang mampu kuucap hanyalah NamaNya

Tiada henti, tiada putus, aku terus saja berbisik

Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah...

Ar-Rahmaan, Ar-Rahiim, Al-Maalik, Al-Qudduus, As-Salaam, Al-Mu’min, Al-Muhaimin, Al-‘Aziiz, Al-Jabbaar, Al-Mutakabbir, Al-Khaaliq, Al-Baari’, Al-Mushawwir, Al-Ghaffaar, Al-Qahhaar, Al-Wahhaab, Ar-Razzaaq, Al-Fattaah, Al-‘Aliim, Al-Qaabidh, Al-Baasith, Al-Khaafidh, Ar-Raafi’, Al-Mu’izz, Al-Mudzill, As-Samii’, Al-Bashiir, Al-Hakam, Al-‘Adl, Al-Lathiif, Al-Khabiir, Al-Haliim, Al-‘Azhiim, Ya Dzal Jalali wal Ikram

Begitu dekat denganNya...

Aku menangis di Multazam, tempat paling mustajab.. tempat seluruh doa akan terjawab.

Duhai Al-Ghafuur, Asy-Syakuur, Al-‘Aliiy, Al-Kabiir, Al-Hafiizh, Al-Muqiit, Al-Hasiib, Al-Jaliil, Al-Kariim, Al-Raqiib, Al-Mujiib, Al-Waasi’, Al-Hakiim, Al-Waduud, Al-Majiid, Al-Baa’its, Asy-Syahiid, Al-Haqq, Al-Wakiil, Al-Qawiyy, Al-Maatin, Al-Waliyyu, Al-Hamiid, Al-Muhshi, Al-Mubdi’, Al-Mu’iid, Al-Muhyii, Al-Mumiit, Al-Hayyu, Al-Qayyuum, Al-Waajid, Al-Maajid, Al-Waahid

Dengan segenap kerinduan yang telah lama menggumpal...  Dengan repihan cinta yang kurekatkan rapat-rapat. Aku mengiba, mengemis, dan menghamba... Meminta Allah memperkenankan pintaku, berjumpa diriNya di titik paling dekat denganNya sepenjuru dunia

Labbaik Allaahumma labbaik, labbaika laa syariikalaka labbaik. Innalhamda wanni’mata, lakawal mulk, laa syariikalak

MenujuMu...

Menyahut seruanMu..

Berakhir di pelukanMu...

Aku ingin bertemu denganMu

Ya Allah, ya Rabbi

Betapa rindu aku ingin kembali

Aku bagaikan petualang yang telah lama tidak pulang dan merasa ingin kembali

Jika aku boleh memilih akhirku, aku ingin di sini, Tuhanku... Di pintu rumahMu... Dengan lantunan ayat suci qiyamullail yang menghidup nadi imanku.. Dengan shalawat dan salam pada kekasihMu yang menyejukkan jiwaku

Di bawah naungan Ka’bahMu

Tuhanku... bersama ampunanMu

Di pelukan Masjidil Haram, bersama rahmatMu

Di hamparan tanah Makkah, bersama keridhoanMu

Di sini, Di Tempat Terindah

Di dalam sujud bersama cintaMu..

Senantiasa dekat denganMu

Ya Allah..


Tak Ada Tempat Wisata Paling Indah Selain Makkah, Yakinlah!


Sahabatku para pembaca yang dirahmati Allah,

Yakinlah.. Bahwa Tak Ada Tempat Wisata Paling Indah Selain Makkah

Semoga Allah mengabulkan permintaan kita untuk bersimpuh di hadapanNya.. Di tempat terindah ini.. Aamiin Ya Rabb